fbpx

HUMANESIA, WUJUD CINTA PADA SESAMA

Bagikan:

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Humanesia

Dalam rumus kemanusiaan, ras bukan pembatas, golongan bukan penghalang, agama tak mesti jadi pembeda, warna kulit bukan alasan dipersulit, kekurangan fisik tidak manejadikan diskriminatif, semua manusia sama, punya hak yang sama, memiliki nilai yang sama, bahwa satu nyawa begitu berharga dan menolongnya kewajiban kita semua tanpa melihat SARA apalagi hanya karena perbedaan pilihan politik.

Ketika Bencana terjadi disuatu tempat, di mana masyarakatnya menjadi korban dari kejadian tersebut dan butuh pertolongan segera, maka siapapun, ras apapun, agama apapun, hitam atau putih warna kulitnya, mereka harus dibantu, diupayakan keselamatannya, diringankan bebannya sebatas yang kita mampu dan yang kita bisa. Jika kemudian membantu manusia harus melihat banyak kesamaan, sejatinya kita belum memahami bahwa manusia punya nilai yang sama, hak yang sama, Tuhan hanya melihat pembeda pada ketakwaannya.

Dalam Hukum Humaniter Internasional pada Konvensi Jenewa tahun 1949 yang di dalamnya mengatur hukum kemanusiaan dalam masalah konflik maupun perang bersenjata bahwa petugas-petugas kemausiaan, petugas kesehatan, pencegahan kekerasan berbasis gender harus diberikan perlindungan. Betapa sering kita lihat dan kita dengar di Palestina yang hampir setiap saat terutama akhir tahun dibombardir tentara Israel, petugas kesehatan meregang nyawa, pers tak mendapat perlindungan, petugas kemanusiaan banyak yang menjadi korban, padahal mereka yang korban serangan butuh penanganan, mulai obat-obatan, makanan bahkan tempat mereka berlindung dari panas dan hujan.

Jiwa kemanusiaan yang melekat pada insan yang memiliki kepedulian, biasanya akan tercenung, sedikit terguncang, atau berkaca-kaca matanya ketika melihat sesama manusia melukai manusia lainnya, bangsa yang satu menghancurkan bangsa lainnya, yang pada kenyataanya, rakyat sipil yang menjadi korbannya, mereka yang tak memiliki kepentingan apa-apa bahkan tidak tahu apa sebenarnya yang diperebutkan. Memasuki desember ini semakin gencar terdengar meningkatnya serangan bersenjata terhadap Palestina yang mengusik jiwa humanesia kita, bahwa mereka selayaknya dibantu.

Setiap tanggal 5 desember diperingati sebagai hari realawan internasional. Semua orang yang peduli terhadap isu-isu kemanusian, gerakan kepedulian dan kebaikan, terlibat dalam kegiatan sosial dan membantu sesama menjadikan momentum hari relawan internasional sebagai momen dalam merefleksikan, mengonsolidasikan dan menggalang dukungan dalam menguatkan gerakan-gerakan kerelawanan baik di Indonesia maupun manca negara.

Indonesia, negara dengan kondisi geografis yang rentan segala macam bencana sangat membutuhkan relawan-relawan tangguh dan berjiwa luhur dalam merespon setiap kejadian bencana, baik alam maupun bencana sosial. Jiwa humanesia yang menjadi jembatan antara yang berkecukupan dan yang membutuhkan bantuan bisa dipertemukan. Di akhir tahun ini, jiwa kita kembali diketuk untuk peduli terhadap sesama, Palestina yang masih membara, kepedulian terhadap disabilitas, perempuan-perempuan tangguh, sekolah-sekolah yang rusak, korban bencana dan kejadian kemanusiaan lainnya yang bisa teringankan dengan kuatnya jiwa kemanusiaan dan kepedulian terutama pada momen hari relawan internasional ini.

Dompet Dhuafa kembali menggulirkan semangat berbagi dan menggelorakan semangat kemanusiaan melalui tema humanesia dengan tagline berani berbagi pada desember sampai januari mendatang. Mencoba fokus selama 2 bulan kedepan untuk peduli terhadap masalah-masalah kemanusiaan baik dalam maupun luar negeri. Membangun awareness publik melalui kemanusiaan, kepedulian dan kekeluargaan. Semoga gerakan kebaikan ini tumbuh dan berkembang, karena setiap kebaikan harus digagas dan direncanakan maksud dan tujuan serta apa yang hendak dicapai***

Penulis: Mokhlas Pidono, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten

Program Ramadhan

donasi sedekah ramadhan dompet dhuafa banten