“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” seperti itulah perintah Allah SWT yang tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 183. Perintah tersebut juga menjadi isyarat bahwa ramadhan adalah bulan yang istimewa, bulan yang dimuliakan, bahkan kesuciannya sangat diagungkan melebihi seribu bulan.
Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan. Dalam 12 bulan kalender bulan hijriah, ramadhan menjadi bulan yang dinanti. Ada perintah yang masuk dalam rukun Islam terdapat dibulan ini, yakni shaum atau puasa. Selain banyak kemuliaan, keagungan, dan ampunan, ramadhan juga menjadi ibadah yang memiliki banyak ujian dan cobaan, menahan hawa nafsu menjadi harga mutlak agar ibadah bisa diterima serta lapar dan haus tak hanya jadi lelah yang sia-sia. Ramadan menjadi momentum segala kebaikan yang terserak berkumpul, saat tepat dimana ibadat semakin meningkat, waktu yang juga sangat tepat untuk menebar manfaat, pahala berlipat, manfaat meningkat.
Sudah hampir sepekan kita menjalani ibadah di bulan ramadan, rasanya baru kemarin kita memulai, namun begitu cepat untuk segera selesai. Ya, waktu begitu cepat berlalu, 30 hari bukanlah waktu yang terlalu panjang untuk kita berleha-leha, sementara kita bercita-cita mencapai derajat takwa. Di bulan ramadan ini, banyak sekali ibadah yang kita tidak bisa lakukan di bulan lainnya dalam setahun, bukti keistimewaan ramadan, tanda bahwa ramadan begitu sangat spesial. Kita tidak akan menemukan shalat tarawih pada selain ramadan atau kita juga tidak bisa tunaikan zakat fitri selain di bulan suci ini.
Selain ibadah-ibadah kita yang berhubungan langsung dengan Allah SWT pencipta alam semesta, ibadah-ibadah sosial yang bersifat horizontal, yakni hubungan antar manusia satu dengan lainnya juga di ramadan ini dijanjikan Allah SWT akan mendapat pahala berlipat, bukan satu, dua atau tiga, namun ratusan kali lipat. Sebagaimana yang dijelaskan oleh salah satu hadits, “Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan, barang siapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu, nilainya sama dengan 70 kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadan.” (Hadits Riwayat Bukhari – Muslim).
Hadits di atas sangat jelas menjanjikan pahala yang sangat besar akan istimewanya ibadah di bulan ramadan. Dalam kalimat akhirnya ada penegasan tentang sedekah, bahwa sedekah terbaik adalah di bulan ramadan, bukan hanya terbaik melainkan utama. Waktu 30 hari ramadan ini mari kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, saling memberi manfaat antara satu dengan lainnya, bahkan berlomba-lomba untuk memberi manfaat terbaik terhadap sesama. Bagi yang kuat secara tenaga, membantu yang lemah dengan tenaga. Bagi yang diberikan kelebihan makanan, bermanfaat bagi sesama dengan berbagi makanan. Bagi yang memiliki kelebihan harta, sedekah di bulan ramadan menjadi utama. Karena tidak semua bisa menikmati khusyuknya puasa karena bekal aman sampai lebaran, tidak semua bisa sahur dan berbuka dengan makanan beraneka rupa dengan berbagai macam rasa. Ada sebagian saudara-saudara kita yang lemah dan kekurangan, merenung memikirkan perutnya yang keroncongan, tak ada iming-iming makanan enak saat buka atau sahur, uang tak ada, makanan entah dimana. Maka, bulan ini menjadi kesempatan kita untuk memberi manfaat sebesar-besarnya. Apalagi ditengah himpitan ekonomi yang saat ini melanda negeri, minyak goreng lompat tinggi, bahan bakar ikut meroket, gas dan bahan kebutuhan pokok lain bukan lagi merangkak naik, tapi melompat pindah harga. Mari kita jadikan momentum 30 hari ramadan ini jadi manfaat, manfaat pahala bagi diri sendiri dan manfaat bagi sesama dengan apa yang kita beri.
Penulis: Mokhlas Pidono, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten





